Senin, 09 April 2012

Menyentuh Istri Batalkah Wudluk?

Bersentuhan Kulit Antara Suami Istri, Apakah Membatalkan Wudlu?


Tanya:
Pak saya mau tanya tentang hukumnya bersentuhan kulit antara suami & istri, apakah itu membatalkan wudhu kami apa tidak mohon dijelaskan kalau ada beserta dalilnya (Al Qur'an & Hadist) demikian saya sampaikan, terimakasih atas perhatiannya

Jawab:
Saudara Eko Budiharjo (mas Jojo) yang baik, pertanyaan anda tentang hukum bersentuhan kulit antara suami-istri "apakah membatalkan wudhu atau tidak", ada beberapa pendapat fuqaha (ulama ahli fiqh) dalam masalah ini.

Sebelumnya perlu anda ketahui, bahwa hukum ini umum, tidak terbatas terhadap istri saja, akan tetapi mencakup seluruh wanita yang halal dinikahi, termasuk istri anda sendiri.

Pertama, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram (halal untuk dinikahi) tidak membatalkan wudhu, baik persentuhan kedua kulit itu didorong oleh syahwat atau tidak, dengan alasan bahwa firman Allah yang artinya : "atau ketika kamu menyentuh wanita (maka wajib bersuci)" mengandung arti khusus, yaitu bukannya semata-mata bersentuhan kulit, melainkan jima' (bersenggama). Oleh karena itu tidak batal kalau terjadi persentuhan kulit saja, dan batal kalau terjadi jima'.

Dan beliau juga menggunakan dalil hadis dari Aisyah ra. : "bahwa Nabi saw. pernah mencium para istrinya, kemudian beliau langsung salat tanpa berwudhu terlebih dahulu. Diriwayatkan juga bahwa Nabi saw. telah melakukan salat di dalam rumah Aisyah yang sempit, pada waktu itu Aisyah berbaring di dekat beliau. Ketika Nabi sujud tersentuhlah kaki Aisyah.

Pendapat yang kedua adalah pendapat Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa persentuhan dua kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram akan membatalkan wudhu secara mutlak, baik persentuhan itu disertai syahwat atau tidak. Menurut Imam Syafi'i ayat 42 surat al-Nisa' itu tidak berarti "menyentuh" dengan arti bersenggama (jima'). Kesimpulannya, persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa ada penghalang akan membatalkan wudhu, baik disertai syahwat atau tidak.

Dan pendapat yang terakhir adalah pendapat Imam Malik yang mengatakan bahwa persentuhan dua kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak membatalkan wudhu selama itu tidak disertai syahwat.

Sekarang tinggal Anda menyesuaikan sendiri, dengan pendapat mana merasa lebih cocok. Ketiga-tiganya sama-sama mempunyai dasar, baik Qur'an dan hadis.

Demikian jawaban singkat dari kami semoga memuaskan anda.

Wallaahu a'lam.

 


Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya ingin bertanya tentang hukum suami istri yang bersentuhan setelah berwudhu. Sebagian ulama mengatakan wudhu kita batal setelah bersentuhan dengan istri dengan alasan bukan muhrim (satu darah). Padahal, setelah akad nikah Allah menghalalkan suami istri untuk bersentuhan. Saya baca di al-Qur'an banyak ayat yang menyatakan Allah menghalalkan suami istri untuk bergaul.

Jawab:

Jika mengacu kepada pendapat mazhab-mazhab yang ada, paling tidak ada dua hukum untuk kasus lelaki menyentuh wanita bukan muhrim (termasuk suami-istri) setelah berwudlu. Pertama, tidak membatalkan wudlu jika sentuhan tersebut tidak disertai dengan syahwat. Pendapat ini diikuti oleh Mazhab Hanafi, Maliki, Hanbali (dalam pendapat mereka yang masyhur) dan Imami.

Pendapat kedua, sentuhan tersebut membatalkan wudlu, disertai syahwat ataupun tidak. Pendapat ini dianut oleh Mazhab Syafi'i dan Dzahiriy.

Pendapat yang kuat (rajih) adalah pendapat pertama, yang mengatakan bahwa sentuhan pria dan wanita tidak membatalkan wudlu jika tidak disertai rasa syahwat, tetapi jika disertai syahwat maka wudlunya batal. Dasar pendapat ini adalah Rasulullah SAW pernah mencium salah seorang istrinya kemudian melakukan salat tanpa wudlu terlebih dahulu (Sunan Abi Dawud Hadis ke-178 Bab "Wudlu min al-Qublah" dan Sunan Nasai Jilid 1 hal. 104).

Pernyataan Anda bahwa Allah menghalalkan suami istri untuk bersentuhan adalah benar. Bahkan lebih dari itu, seperti mencium dan berhubungan badan pun dihalalkan. Tetapi tidak berarti hal itu tidak membatalkan wudlu bukan?
Kita juga halal dan boleh memegang kemaluan kita, tetapi kenapa wudlu menjadi batal karena memegang kemaluan tersebut? Jadi, bukan berarti segala sesuatu yang halal kita sentuh lantas tidak bisa membatalkan wudlu.

Wa Allahu A'lam

Bersentuhan Suami-Isteri Setelah Berwudlu, Batalkah ?” ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Pak Ustadz yang saya hormati, saya masih bingung adanya dua pendapat yang berbeda mengenai batal wudlu yang disebabkan karena senggolan/sentuhan kulit antara suami-isteri yang sudah berwudlu, karena ada yang bilang batal dan ada yang bilang tidak. Untuk itu mohon dijelaskan untuk masalah ini dengan disertai riwayat/imam siapa yang berpaham batal dan siapa yang berpaham tidak. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.
WAssalamualaikum,
Yanto
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala rsulillah, wa ba’du
Dalam daftar hal-hal yang membatalkan wudhu, sentuhan kulit secara langsung antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, termasuk masalah yang diperdebatkan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa sentuhan itu membatalkan wudhu` dan sebagian mengatakan tidak.
Sebab perbedaan pendapat mereka didasarkan pada penafsiran ayat Al-Quran yaitu:
Yang Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
a. Pendapat yang Membatalkan
Sebagian ulama mengartikan kata MENYENTUH sebagai kiasan yang maksudnya adalah jima` . Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit, tidak membatalkan wuhu`.
Ulama kalangan As-Syafi`iyah cenderung mengartikan kata MENYENTUH secara harfiyah, sehingga menurut mereka sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu`.
Menurut mereka, bila ada kata yang mengandung dua makna antara makna hakiki dengan makna kiasan, maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan perlunya menggunakan penafsiran secara kiasan.
Dan Imam Asy-Syafi`i nampaknya tidak menerima hadits Ma`bad bin Nabatah dalam masalah mencium.
Namun bila ditinjau lebih dalam pendapat-pendapat di kalangan ulama Syafi`iyah, maka kita juga menemukan beberapa perbedaan. Misalnya, sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhu`nya adalah yang sengaja menyentuh, sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh, maka tidak batal wudhu`nya.
Juga ada pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan . Menurut sebagian mereka, bila sentuhan itu antara suami isteri tidak membatalkan wudhu`.
b. Pendapat yang Tidak Membatalkan
Dan sebagian ulama lainnya lagi memaknainya secara harfiyah, sehingga menyentuh atau bersentuhan kulit dalam arti fisik adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu`. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan juga semua salaf dari kalangan shahabat.
Sedangkan Al-Malikiyah dan jumhur pendukungnya mengatakan hal sama kecuali bila sentuhan itu dibarengi dengan syahwat , maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu`.
Pendapat mereka dikuatkan dengan adanya hadits yang memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernha menyentuh para isterinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu` lagi.
Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian isterinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu`. Lalu ditanya kepada Aisyah, ”Siapakah isteri yang dimaksud kecuali anda?” Lalu Aisyah tertawa. .
Wallahu a’lam bish-shawabWassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Sumber: http://www.salaf.web.id


Tanya:

Salam Ustaz, Saya ingin mengetahui tentang wuduk. Adakah batal wuduk itu bila bersentuhan antara suami & isteri. Ada yang berpendapat batal wuduk itu dan ada yang tidak batal.



Jawab:

Dalam masaalah ini para ulama berbeza pendapat kepada 3 golongan:

1. Berpandangan menyentuh atau bersentuhan antara lelaki dan wanita (termausk suami dan isteri) membatalkan wudhu dalam apa keadaan sekalipun, samaada sentuhan itu beserta syahwat ataupun tidak. Inilah pandangan mazhab al-Imam al-Syafie R.H.

Dalilnya mazhab pertama antaranya:

i- Ayat al-Quran:

أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء

Maksudnya: “Atau kamu menyentuh wanita.” – maka kamu perlu mengambil wudhu.

2. Berpandangan menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu samaada sentuh dengan syahwat ataupun tidak. Ini adalah pandangan dalam mazhab Hanafi R.H.

Dalil mazhab kedua antaranya:

i. Hukum asal orang yang berwudhu adalah kekal wudhunya selama-mana tidak ada dalil yang menunjukkan sesuatu perkara yang dilakukannya itu membatalkan wudhunya. Maka dalam bab menyentuh wanita ini tidak ada dalil yang menunjukkan ia membatalkan wudhu. Adapun tentang ayat di atas, mazhab Hanafi memahami ianya membawa maksud bersetubuh bukan bersentuhan dalam ertikata kulit dengan kulit semata-mata. Selain itu terdapat hadith yang menunjukkan bersentuhan semata-mata tidak membatalkan wudhu, dan hadith-hadith ini menguatkan lagi pandangan mazhab Hanafi yang mengatakan maksud sentuhan di dalam ayat di atas adalah dimaksudkan kepada jima’ atau bersetubuh. Hadith-hadith tersebut ialah:
ii. Daripada ‘Aisyah R.’anha:

كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا

Maksudnya: “Aku pernah tidur dihadapan Rasulullah S.A.W. dalam keadaan dua kaki-ku di hadapan kiblat baginda (dan baginda sedang menunaikan solat), lalu apabila baginda hendak sujud, baginda memegang kaki-ku, lalu akupun menarik kaki-ku (untuk membolehkan baginda sujud), apabila baginda bangun, aku lunjurkan semula dua kaki-ku tadi.” (HR al-Bukhari)

iii. Daripada ‘Aisyah juga:

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ

Maksudnya: “Aku kehilangan Rasulullah S.A.W. pada suatu malam di tempat tidur-ku, aku meraba-raba mencari baginda, lalu dua tanganku tersentuh belakang kakinya, dan baginda di dalam masjid (sedang sujud menunaikan solat), kedua-dua kaki baginda itu ditegakkan, dan baginda membaca: “Ya Allah, aku memohon perlindungan dengan keredhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan kemaafan-Mu dari kemuerkaan-Mu.” (HR Muslim)

Zahir dari kedua-dua hadith ini jelas menunjukkan Nabi S.A.W. pernah menyentuh ‘Aisyah R.A. ketika baginda menunaikan solat. Demikian juga ‘Aisyah R.A. juga pernah menyentuh Nabi S.A.W. ketika baginda menunaikan solat. Jika sentuhan antara lelaki dan wanita itu membatalkan wudhu sudah tentu Nabi S.A.W. akan membatalkan solatnya disebabkan wudhu baginda terbatal kerana baginda telah disentuh oleh ‘Aisyah.

Para ulama dari mazhab al-Syafie mengemukan jawapan terhadap hadith ini. Namun jawapan mereka dianggap lemah oleh ulama mazhab lainnya, iaitulah mereka berpendapat barangkali sentuhan yang berlaku antara Nabi S.A.W. dan ‘Aisyah itu berlaku dengan berlapik. Alasan ini dianggap lemah oleh ulama mazhab lainnya, sehingga al-Syaukani berkata: “Takwilan ini merupakan takalluf dan bersalahan dengan zahir (dalil).”

3. Berpendapat bersentuhan antara lelaki dan perempuan dengan syahwat membatalkan wudhu jika tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu. Ini adalah mazhab Malik dan Hambali.

Pandangan ini merupakan hasil daripada menggabungkan antara nas-nas yang ada dalam masaalah ini, iaitu ayat al-Quran yang bermaksud: “Atau apabila kamu menyentuh wanita (kamu perlu berwudhu)” kerana zahir ayat ini menunjukkan seolah-olah batal wudhu dengan hanya bersentuhan antara lalaki dan wanita, dengan hadith-hadith yang menunjukkan berlakunya persentuhan antara Nabi dan ‘Aisyah, dan baginda tidak memperbaharui wudhu.

Sebahagian ulama, terutama yang berpendapat tidak batal wudhu dengan bersentuhan antara lelaki dan wanita berpendapat, cara menggabungkan nas-nas seperti yang dilakukan oleh ulama mazhab Malik dan Hambali ini benar jika ayat al-Quran di atas memaksudkan dengan bersentuhan itu adalah semata-mata bersentuhan antara kulit. Akan tetapi terdapat penafsiran yang sahih yang menunjukkan ayat tersebut memaksudkan jima’ atau bersetubuh bukan semata-mata bersentuhan. Ini sepert yang ditafsirkan oleh Ibn Abbas R.A. dan penafsiran ini dipilih oleh Ibn Jarir, dan penafsiran Ibn ‘Abbas ini didahulukan berbanding penafsiran lain, kerana Nabi S.A.W. pernah berdoa kepada Ibn ‘Abbas dengan doa baginda yang berbunyi:

اللهم فقّهه في الدين وعلمّه التأويل

Maskudnya: Ya Allah fakihkanlah ia (Ibn ‘Abbas) dalam hal-ehwal agama dan ajarkanlah dia tafsir (al-Quran).” (HR Ahmad, al-Albani telah mensahihkan hadith ini di dalam Tahkik al-Tohawiah)

Selain itu banyak ayat al-Quran lain yang menggunakan kalimat menyentuh (المس) dengan maksud jima’ atau bersetubuh, antaranya firman Allah S.W.T.:

لاَّ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن طَلَّقْتُمُ النِّسَاء مَا لَمْ تَمَسُّوهُنُّ أَوْ تَفْرِضُواْ لَهُنَّ فَرِيضَةً

Maksudnya: “Tidak mengapa jika kamu mentalak isteri kamu sebelum kamu menyentuh (yakni membawa maksud bersetubuh) mereka atau sebelum kamu menentukan mahar mereka.” (al-Baqarah : 236)

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَإِن طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ

Maksudnya: “Jika kamu mentalak isteri-isteri kamu sebelum kamu menyentuh (yakni membawa maksud bersetubuh), pada hal kamu telah menentukan mahar mereka, maka bayarlah setengah daripada mahar yang telah kamu tentukan itu.” (al-Baqarah: 237)

Di dalam ayat yang lain lagi Allah berfirman dengan menggunakan kalimah menyentuh dengan maksud bersetubuh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

Maksudnya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi wanita-wanita yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuh (yakni sebelum kamu menyetubuhi) mereka, maka tidak wajib ke atas mereka iddah bagi mu yang kamu minta menyempurnakan nya, maka berilah mereka mut’ah dan lepaskan lah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.” (al-Ahzab: 49)

Berdasarkan ini semua, maka pandangan yang lebih kuat dan lebih hampir kepada maksud yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul dalam persoalan ini adalah pandangan mazhab Hanafi yang mengatakan tidak batal wudhu dengan bersentuhan antara lelaki dan wanita. Inilah juga pandangan yang dipilih oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah, dan ulama semasa seperti al-Syeikh Abdullah ‘Aziz Abdillah bin Baz, al-Syeikh Muhammad bin Soleh al-‘Uthaimin, para ulama dari Lujnah Fatwa Arab Saudi dan ramai para ulama yang lain lagi.

Wallahu a’lam. bs.




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar